Batu Bara Secara Umum

Umur batu bara

Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.

Materi pembentuk batu bara

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
  • Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
  • Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
  • Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
  • Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di AustraliaIndia dan Afrika.
  • Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

Penambangan

Penambangan batu bara adalah penambangan batu bara dari bumiBatu bara digunakan sebagai bahan bakar. Batu bara juga dapat digunakan untuk membuatcoke untuk pembuatan baja.[1]
Tambang batu bara tertua terletak di Tower Colliery diInggris.

Kelas dan jenis batu bara

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
  • Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
  • Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.
  • Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
  • Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.
  • Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

Pembentukan batu bara

Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
  • Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
  • Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

Sekian dulu postingan kali ini miners blogger 
Semoga bermanfaat buat kalian semua 
#salamtambang

Metode dan Pengolahan Tambang Emas

Pengolahan tambang emas diperoleh dengan cara mengisolasinya dari batuan bijih emas (ekstraksi). Bijih emas dikategorikan dalam 4 ( empat ) kategori :
  • Bijih tipis dimana kandungannya sebesar 0.5 ppm
  • Bijih rata-rata ( typical ) dengan mudah digali, nilai biji emas khas dalam galian terowongan terbuka yakni kandungan 1 -5 ppm
  • Bijih bawah tanah/harrdrock dengan kandungan 3 ppm 
  • Bijih nampak mata ( visible ) dengan kandungan minimal 30 ppm
Metode dan Pengolahan Tambang EmasMenurut Greenwood dkk (1989), batuan bijih emas yang layak untuk dieksploitasi sebagai industri tambang emas, kandungan emasnya sekitar 25 g/ton (25 ppm).
Di dunia pertambangan mengenal dua metode eksplorasi tambang, pertama metode tambang bawah tanah (underground mining) dan kedua metode tambang terbuka (surface mining). Kedua metode penambangan emas tersebut sangat dipengaruhi oleh karakteristik cebakan emas.


Berdasarkan proses terbentuknya, endapan emas dikatagorikan menjadi dua type.

  1. Endapan primer / Cebakan Primer

    Pada umumnya emas ditemukan dalam bentuk logam (native) yang terdapat di dalam retakan-retakan batuan kwarsa dan dalam bentuk mineral yang terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan aktifitas hidrotermal, yang membentuk tubuh bijih dengan kandungan utama silika. Cebakan emas primer mempunyai bentuk sebaran berupa urat/vein dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa.
  2. Endapan plaser / Cebakan Sekunder

    Emas juga ditemukan dalam bentuk emas aluvial yang terbentuk karena proses pelapukan terhadap batuan-batuan yang mengandung emas (gold-bearing rocks, Lucas, 1985). Proses oksidasi dan pengaruh sirkulasi air yang terjadi pada cebakan emas primer pada atau dekat permukaan menyebabkan terurainya penyusun bijih emas primer. Proses tersebut menyebabkan juga terlepas dan terdispersinya emas. Terlepas dan tersebarnya emas dari ikatan bijih primer dapat terendapkan kembali pada rongga-rongga atau pori batuan, rekahan pada tubuh bijih dan sekitarnya, membentuk kumpulan butiran emas dengan tekstur permukaan kasar. Akibat proses tersebut, butiran-butiran emas pada cebakan emas sekunder cenderung lebih besar dibandingkan dengan butiran pada cebakan primernya (Boyle, 1979). Dimana pengkonsentrasian secara mekanis melalui proses erosi, transportasi dan sedimentasi  (terendapkan karena berat jenis yang tinggi) yang terjadi terhadap hasil disintegrasi cebakan emas pimer  menghasilkan endapan emas letakan/aluvial (placer deposit).
Cebakan emas primer dapat ditambang secara tambang terbuka (surface mining) maupun tambang bawah tanah (underground minning). Sementara cebakan emas sekunder umumnya ditambang secara tambang terbuka. 

Cebakan Primer

Cebakan primer merupakan cebakan yang terbentuk bersamaan dengan proses pembentukan batuan. Salah satu tipe cebakan primer yang biasa dilakukan pada penambangan skala kecil adalah bijih tipe vein ( urat ), yang umumnya dilakukan dengan teknik penambangan bawah tanah terutama metode gophering / coyoting ( di Indonesia disebut lubang tikus ). Penambangan dengan sistem tambang bawah tanah (underground), dengan membuat lubang bukaan mendatar berupa terowongan (tunnel) dan bukaan vertikal berupa sumuran (shaft) sebagai akses masuk ke dalam tambang. Penambangan dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana ( seperti pahat, palu, cangkul, linggis, belincong ) dan dilakukan secara selektif untuk memilih bijih yang mengandung emas baik yang berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi.
Terhadap batuan yang ditemukan, dilakukan proses peremukan batuan atau penggerusan, selanjutnya dilakukan sianidasi atau amalgamasi, sedangkan untuk tipe penambangan sekunder umumnya dapat langsung dilakukan sianidasi atau amalgamasi karena sudah dalam bentuk butiran halus.

Beberapa karakteristik dari bijih tipe vein ( urat ) yang mempengaruhi teknik penambangan antara lain :
  1. Komponen mineral atau logam tidak tersebar merata pada badan urat.
  2. Mineral bijih dapat berupa kristal-kristal yang kasar.
  3. Kebanyakan urat mempunyai lebar yang sempit sehingga rentan dengan pengotoran ( dilution ).
  4. Kebanyakan urat berasosiasi dengan sesar, pengisi rekahan, dan zona geser (regangan), sehingga pada kondisi ini memungkinkan terjadinya efek dilution pada batuan samping.
  5. Perbedaan assay ( kadar ) antara urat dan batuan samping pada umumnya tajam, berhubungan dengan kontak dengan batuan samping, impregnasi pada batuan samping, serta pola urat yang menjari ( bercabang ).
  6. Fluktuasi ketebalan urat sulit diprediksi, dan mempunyai rentang yang terbatas, serta mempunyai kadar yang sangat erratic ( acak / tidak beraturan ) dan sulit diprediksi.
  7. Kebanyakan urat relatif keras dan bersifat brittle.
Dengan memperhatikan karakteristik tersebut, metode penambangan yang umum diterapkan adalah tambang bawah tanah ( underground ) dengan metode Gophering, yaitu suatu cara penambangan yang tidak sistematis, tidak perlu mengadakan persiapan-persiapan penambangan ( development works ) dan arah penggalian hanya mengikuti arah larinya cebakan bijih. Oleh karena itu ukuran lubang ( stope ) juga tidak tentu, tergantung dari ukuran cebakan bijih di tempat itu dan umumnya tanpa penyanggaan yang baik.

Cara penambangan ini umumnya tanpa penyangga yang memadai dan penggalian umumnya dilakukan tanpa alat-alat mekanis. Metode tambang emas seperti ini umum diterapkan di berbagai daerah operasi tambang rakyat di Indonesia, seperti di Ciguha, Pongkor-Bogor; Gunung Peti, Cisolok-Sukabumi;  Gunung Subang, Tanggeung-Cianjur; Cikajang-Garut; Cikidang, Cikotok-Lebak; Cineam-Tasikmalaya; Kokap-Kulonprogo; Selogiri-Wonogiri; Punung-Pacitan; Tatelu-Menado; Batu Gelas, RataTotok-Minahasa; Bajuin-TanahLaut; Perenggean-Palangka Raya; Ketenong-Lebong;  dan lain-lain. Penambangan dilakukan secara sederhana, tanpa development works, dan langsung menggali cebakan bijih menuruti arah dan bentuk alamiahnya. Bila cebakan bijih tersebut tidak homogen, kadang-kadang terpaksa ditinggalkan pillar yang tak teratur dari bagian-bagian yang miskin.


Sekian dulu postingan kali ini miners blogger 
Semoga bermanfaat buat kalian semua 
#salamtambang

Hasil Tambang Yang bersal dari indonesia

Daftar hasil tambang Indonesia berikut ini, hanya sedikit dari melimpahnya hasil bumi yang berada pada negara kita. Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, menyimpan kekayaan alam yang melimpah ruah dan tersebar pada gugusan pulau-pulaunya dari Sabang sampai Merauke.

Hasil Tambang indonesia
Bahkan, banyak wilayah-wilayah tertentu pada negara kita yang berpotensi menjadi penghasil barang tambang terbaik namun belum mampu untuk berkembang.
 

Hasil Tambang Indonesia

1. Batubara

Di Indonesia memiliki daerah penghasil batubara yang tersebar di nusantara seperti Bukitasam di Tanjungenim, Sumatra Selatan, Kotabaru (Pulau Laut) di Kalimantan Selatan, Sungai Berau di Samarinda, Kalimantan Timur dan Umbilin yang berpusat di Sawahlunto Sumatra Barat. Hasil tambang Indonesia berupa batubara ini, diusahakan oleh PN Batubara yang terdapat juga di Bengkulu, Jawa Barat, Papua, dan Sulawesi Selatan.


2. Emas dan Perak

Dada banyak tanbang emas dan perak di Indonesia, yang bisa ditemukan di Bengkalis (Sumatra), Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), Cikotok (Jawa Barat), Meuleaboh (Aceh), Rejang Lebong (Bengkulu). Emas dan perak memiliki nilai tukar yang cukup tinggi sehingga banyak pertambagan liar dilakukan.


3. Fosfat

Fosfat terbentuk dari persenyawaan pada kotoran kelelawar yang tercampur dengan dengan batu kapur yang sangat diperlukan dalam industri pupuk. Penambangan fosfat banyak terdapat di Bogor, Pangandaran (Jawa Barat) dan Gombong, Purwokerto, Jepara, Rembang, bojonegoro (Jawa Tengah).


4. Aspal

Pertambangan aspal banyak ditemui pada Pulau Buton (Sulawesi Tenggara), dihasilkan juga oleh Permigan Wonokromo (Jawa Timur) yang merupakan hasil olahan dari jenis minyak bumi.


5. Bijih Besi

Barang tambang Indonesia berupa bijih besi cukup banyak tersebar di wilayah Indonesia, Cilacap pasir besi (Jawa Tengah), Cilegon (Banten), Longkana dan Peg. Verbeek (Sulawesi Tengah), Pulau Dermawan  Pulau Sebuku dan Pulau Suwang (Kalimantan Selatan). Pengolaha bijih besi dilakukan oleh PT Krakatau Steel, Cilegon – Jawa Barat.


6. Belerang

Belerang banyak ditemukan pada daerah pegunungan dan digunakan sebagai bahan obat patek dan korek api. Penembangan belerang terdapat di Gunung Welirang (Jawa Timur), Jambi, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara.


7. Intan

Hasil tambang Intan di Indonesia banyak hampir berpusat di pulau Kalimantan dan tempat pengasahannya terletak di Martapura (Kalimantan Selatan), Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.


 8. Gas Alam

Gas alam banyak digunakan dalam berbagai industri yang juga banya terdapat di daerah Arun (DI Aceh), Bontang (Kalimantan dan juga tersebar di daerah Jawa Barat, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.


9. Alumunium

Pertambangan alumunium banyak dilakukan pada provinsi papua untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan peralatan dapur, mebel, dan perkakas lain karena sifatnya yang ringan dan mudah dibentuk.


10. Gips

Pada industri keramik, gips telah banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatannya. Barang tambang gips di Indonesia, terdapat di daerah Cirebon, Rembang, Kalianget, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Hasil Barang Tambang Indonesia

Hasil tambang di Indonesia memang bisa dianggap melimpah ruah dan bisa dikatakan dapat menjadi kekuatan ekonomi negara kita. Tapi jika melihat dari kenyataan yang terjadi, hal tersebut sangat jauh dari. Pengelolaan yang buruk menjadi kelemahan kita untuk membuat barang tambang Indonesia, menjadi komoditi ekspor ekonomi yang sangat menjanjikan. Perlu pembenahan secara serius dalam pengelolaan barang tambang, untuk menciptakan perekonomian yang maju dengan hasil barang tambang dari negeri sendiri.

Sekian dulu postingan kali ini miners blogger
 Semoga bermanfaat buat kalian semua
 #salamtambang

Global Mapper Terbaru

Global Mapper v15.1 adalah software GIS yang digunakan untuk mengolah citra satelit maupun data peta seperti peta scan, digunakan untuk tampilan 3d view atau analisa data topgrafi yang bersifat Digital Elevation Model. Software ini mendukung berbagai macam format data seperti DEM, E00, CADRG/CIB, MrSID, DLG-O, SDTS DEM, DOQ, DTED, DWG, DXF, ECW, GeoTIFF, Tiger/Line , SDTS DLG, KML/KMZ, , DGN, ESRI Shapefiles, JPEG2000, DRG, Lidar LAS, Arc Grid dan masih banyak lagi.
Harga software Global Mapper saat ini berkisar $399 untuk lisensi tunggal namun jika membelinya dalam jumlah banyak (minimum 20 lisensi) harganya sekitar $299 per lisensi. tapi Anda tidak perlu membelinya dengan harga seperti itu, karena saya sudah sediakan buat kalian versi Global Mapper gratisan.

Global Mapper v15.1

Kegunaan Utama Global Mapper

Global Mapper memiliki banyak fungsi antara lain:
  • Generate kontur ke berbagai interval
  • Generate watershed atau daerah aliran sungai secara otomatis
  • Melihat data DEM dengan berbagai tampilan seperti atlas, hilshade, aspect, slope dan lain-lain

Keunggulan Global Mapper:

  • Editor/viewernya sangat mudah digunakan dan telah mampu menampilkan berbagai data raster, DEM, data vektor dan GeoPDF
  • Mengkonvert data hasil penginderaam jauh, mengedit data vektor, reproject citra satelit, mosaik citra satelit, print, track GPS
  • Kemampuan akses secara online ke berbagai sumber data citra, peta topografi , DTM dan banyak lagi.
  • Dapat menghitung jarak dan luas dengan akurat, pembauran arsir dan penyesuaian kontras, melihat elevasi citra satelit DEM, dan perhitungan garis pandang untuk memaksimalkan presisi.
  • Secara cepat mendigitalkan fitur vektor baru, mengedit fitur yang sudah ada, dan dengan mudah menyimpannya ke format ekspor yang didukung software global mapper
  • Mudah melacak setiap perangkat GPS yang kompatibel yang terhubung ke port serial komputer melalui data apa pun yang di-upload, menandai waypoint tanpa sambungan, serta merekam log pelacakan.
  • Dengan cepat menyimpan isi layar menjadi file BMP, JPG, PNG, atau (Geo) TIFF, yang dapat Anda rektifikasi secara intuitif dan disimpan dalam citra baru yang sepenuhnya dapat dijadikan georeferensi.
  • Kelebihan versi 12 dari software sebelumnya yaitu dapat secara otomatis membuat Watershed dan kelebihan-kelebihan yang lain.
Global Maper Download >>> Klik disini

Software Global Mapper v15.1. kompatibel dengan Windows 98, Windows NT, Windows 2000, Windows ME, Windows XP (32 dan 64-bit versi), Windows Vista (32 dan versi 64-bit), Windows 7/8 (32 dan 64-bit versi), dan Windows Server 2003/2008/2012. Persyaratan Sistem minimum  adalah 64 MB RAM dan 100 MB Besar hard drive untuk instal.  

Sekian dulu postingan kali ini miners blogger 
Semoga bermanfaat buat kalian semua 
#salamtambang

Metode Peledakan Tambang Bawah Tanah

Peledakan Tambang Bawah Tanah
Pada proses penambangan bawah tanah terdapat bermacam-macam cara untuk membuat lubang bukaan atau terowongan. Salah satunya adalah dengan cara peledakan.Peledakan pada pembuatan terowongan adalah pekerjaan melepas dan memecah batuan dengan menggunakan bahan peledak sehingga didapatkan bentuk yang diinginkan dengan ukuran material yang mudah diangkut dan dibuang dengan peralatan yang

Perencanaan Tambang (mine plan)

Perencanaan Tambang

1. Arti Perencanaan

Perencanaan tambang dapat diartikan sebagai kegiatan berikut :
  • Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.
  • Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan dilakukan.
  • Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.
  • Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.
  • Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.

2.  Fungsi Perencanaan

Fungsi perencanaan Tambang  tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan dan sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat dikatakan antara lain sebagai berikut :
  • Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan.
  • Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan, hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.
  • Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.
  • Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.
  • Penyusunan urutan kepentingan tujuan.
  • Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.
  • Cara penggunaan dan penempatan sumber secara berdaya guna dan berdaya hasil.

3. Tujuan Perencanaan Tambang

Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :
  • Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan biaya yang semurah mungkin.
  • Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa kriteria ekonomik seperti rate of return atau net present value.

4.  Masalah Perencanaan Tambang

Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena merupakan problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu. Geometri tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah dengan waktu.Parameter-parameter ekonomi penting yang lain pun sering merupakan fungsi waktu pula.

5.  Ruang Lingkup Perencanaan Tambang

Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

a. Penentuan batas dari pit

Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.

b.  Perancangan pushback

Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis cadangan bijih tersebut mulai dari titik masuk awal hingga ke batas akhir daripit.  Perancangan pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pitmenjadi unit-unit perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah perancangan  tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.

c.  Penjadwalan produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang mengikuti urutan  pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk tiap  pushback yang diperoleh dari tahap 2).  Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade) dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai waktu dari uang, misalnya  net present value.  Hasilnya akan dipakai untuk menentukan sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.

d.  Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu

Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun).  Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih dan  waste untuk tahun tersebut.  Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat terlihat.

e.  Pemilihan alat

Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4) dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu.  Dengan mengukur profil jalan angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode (setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.) dihitung pula.

f.  Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital

Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi.  Jumlah dan jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat ditentukan.  Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
Catatan:
peta-peta yang dihasilkan dalam tahap 1), tahap 2) dan tahap 4) merupakan peta tampak atas (plan/level maps).

6. TAHAPAN DALAM PERENCANAAN

6.1  Pendahuluan

Tahapan dalam perencanaan menurut LEE (1984) dan Taylor (1977) dapat terbagi tiga tahap, yaitu :
1. Studi Konseptual.
Studi pada tahap pekerjaan awal ini merepresentasikan suatu transformasi dari suatu ide proyek kedalam usulan investasi yang luas dengan menggunakan metoda-metoda perbandingan dari definisi ruang lingkup dan teknik-teknik estimasi biaya untuk mengidentifikasikan suatu kesempatan investasi yang potensial. Biaya modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah yang menggunakan data historik.
Studi ini akan menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan penambangan yang memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah pekerjaan dari satu atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai evaluasi awal.
Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau scoping studies.
Pada umumnya berdasarkan data sementara/tak lengkap dan yang keabsahannya masih diragukan.
Hasilnya biasanya merupakan suatu dokumen intern dan tidak disebarluaskan di luar perusahaan yang bersangkutan.
Di samping meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini, tujuan lainnya adalah menentukan topik yang harus dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci di masa yang akan datang.
2.   Pra Studi Kelayakan
Srudi ini adalah suatu pekerjaan pada tingkat menengah (intermedia) dan secara normal tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektif didalam penentuan apakah konsep proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis detail oleh suatu studi kelayakan (apakah studi kelayakan diperlukan) dan apakah setiap aspek dari proyek adalah kritis dan memerlukan suatu investigasi yang mendalam melalui suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi konseptual yang tidak mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal. beberapa dari studi ini dibuat oleh suatu tim (terdiri 2 & 3 orang). Kedua atau ketiga orang ini mempunyai akses ke konsultan dalam berbagai bidang, selain dapat berupa usaha dari multi group.
Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik.
Beberapa pekerjaan paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting dari proyek seperti pengujian metalurgi bijih, geoteknik, lingkungan, dsb.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih dianggap sebagai dokumen intern. Perusahaan yang lebih kecil sering menggunakan dokumen ini untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai studi-studi selanjutnya. (Ingat kasus Bre-X/Busang!).
3. Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan suatubankble document yang hampir selalu ditujukan untuk mencari modal untuk membiayai proyek tersebut. Karena itu, dokumen yang dihasilkan ini biasanya disebarluaskan pula di luar perusahaan.
Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek tambahan harus dibahas pula.
3.2  Biaya Perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut :
Biaya = f (ukuran & sifat dari proyek, jenis studi, jumlah
alternatif yang diinvestigasi, dll).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk seperti ongkos pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual  =  0,1 – 0,3 % dari biaya total
Studi pra kelayakan     =  0,2 – 0,8 % dari biaya total
Studi kelayakan  =  0,5 – 1,5 % dari biaya total
3.3  Akurasi dari Estimasi
3.3.1 Tonase dan kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari beberapa tonase yang diumumkan, disukai karena diketahui memiliki limit yang dapat diterima, katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda statistik yang standar. Walaupun tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk tambang terbuka diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam kenyataannya tonase ultimat dari banyak endapan bervariasi karena ia tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian besar tambang terbuka adalah :
1. Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang dibutuhkan untuk seluruh tahun Cash Flow yang diproyeksikan dalam laporan studi kelayakan haruslah diketahui dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Sebuah tonase ultimat yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan optimistik, seharusnya dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan area tambahan yang berpengaruh untuk penambangan, dan dimana dumping area serta abngunan pabrik musti diletakkan.
3.3.2  Unjuk kerja
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang stabil dan biasanya dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan pengorganisasian alat (misal Shovel dan Truck) secara tepat. Unjuk kerja akan terganggu jika pekerjaan tambahan (pengupasan tanah penutup dalam sebuah pit) tidak mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan ini harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan studi kelayakan.
3.3.3   Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos oeprasi di lapangan, hanya berbeda sedikit dari tiap tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa mungkin unik atau sukar untuk diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal atau estimasi biaya operasi kembali kepada akurasi dalam kuantitas, kuota yang ada atau unit harga,  kecukupan ketentuan untuk ongkos tidak langsung dan overhead. Tendensi terakhir menunjukkan adanya batas yang meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima untuk akurasi diberikan sebagai berikut :
Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total
Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total.
3.3.4   Harga dan perolehan
Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu harus membayar seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi awal dari uang. Krena pendapatan adalah dasar yang terbesar dalam mengukur faktor ekonomi tambang sehingga lebih sensitif mengubah penerimaan daripada mengubah faktor-faktor lain dari jenis-jenis pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar, recovery, dan harga dari produk metal. Oleh karenanya, harga adalah: (a) sejaun ini sangat sulit untuk estimasi dan (b) suatu jumlah yang besar diluar dari kontrol estimator. Walaupun mengabaikan inflasi, harga pembelian secara lebar bervariasi terhadap waktu. kecuali komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan permintaan dan pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan harga rata-rata metal di luar negeri dalam harga dolar sekarang, baik kemungkinan maupun konservatif. Harga terakhir berkisar 80% dari kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus tetap menguntungkan.

7.  CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN

Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru, terdapat banyak faktor dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan. Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu keharusan melakukan studi yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu checklist (rebel, 1975, “Field Work Program Checklist for New Properties”).
Checklist Item

1.   Topografi

  1. USGS maps  ®  1 : 500      1 : 1000
b.  Special Aerial or lamd survey establish control stations

2.  Kondisi iklim (Climate condition)

a.  Ketinggian
b.  Temperatur  ®  rata-rata bulanan sudah cukup.
c.  Prespitasi (untuk penirisan)
  • rata-rata presipitasi tahunan
  • rata-rata curah hujan bulanan
  • rata-rata Run-off (keadaan normal dan flood/banjir)
d.  Angin, maks, tercatat dalam arah.
e.  Kelembaban.
f.  Delay.
g.  Awan, fog.

3.  Air

a.  Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b.  Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemungkinan lokasi bendungan.
d.  Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e.  Sewage Disposal Methode.

4.  Struktur Geologi

a.  Dalam daerah tambang.
b.  Disekeliling daerah tambang.
c.  Kemungkinan gempa bumi.
d.  Akibat pada slope (maks. slope).
e.  Estimasi dan kondisi fondasi.

5.  Air Tambang

a.  Kedalaman.
b.  Konduktivitas.
c.  Metode Penirisan.

6.  Permukaan

a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya.
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon besar.

7.  Tipe/Jenis Batuan (Bijih, overburden)

a.  Sample untuk uji kemampuan dibor.
b. Fragmentasi : Hardness, derajat pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan.

8.  Lokasi untuk Konsentrator.

a.  Lokasi tambang, Haul up hill, down hill.
b.  Preparasi lokasi (cut, fill).
c.  Proses air : gravitasi, pompa.
d.  Tailing Disposal.
e.  Fasilitas pemeliharaan.

9.  Tailing Pond (daerah)

a.  Lokasi pipa.
b.  Alamiah, bendungan, danau.
c.  Pond overflow.

10. Jalan

a.  Peta jalan
b.  Informasi jalan-jalan yang ada :
·  lebar, permukaan, batas maksimum beban
·  batas maksimum load sesuai musim
·  pemeliharaan.
c.  Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan
·  panjang
·  profile
·  cut and file
·  jembatan
·  pengkondisian tanah
·  dll.

11.    Power

a.  Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya.
b.  Kabel ke SIB.
c.  Lokasi sub station.
d.  Kemungkinan untuk power station sendiri.

12.    Smelting

a.  Ketersediaan pabrik.
b.  Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak, reet, dll.
c.  Biaya.
d. Aspek terhadap lingkungan.
e.  Rel KA, dok.

13.    Kepemilikan lahan

a.  Kepemilikan : begara, pribadi.
b.  Tata guna lahan.
c.  Harga tanah.
d.  Jenis oplians : sewa, beli, dll.

14. Pemerintah

a.  Suasana politik.
b.  Hukum, UU pertambangan.
c.  Keadaan lokal.

15. Kondisi ekonomi

a.  Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur.
b.  Kesediaan tenaga kerja.
c.  Skala penggalian.
d.  Struktur pajak.
e.  Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah.
  1. Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel.
g.  Pembelian.

16.    Lokasi Pembuangan (waste) : tambang, rumah sakit, perumahan

a.  Jarak.
b.  Profil jalan.
c.  Kekungkinan proses lebih lanjut.

17. Aksessibilitas dari kota utama ke luar

a.  Metode transportasi.
b.  Realibilitas dan transportasi yang tersedia.
c.  Komunikasi.

18. Metode mendapatkan informasi

a.  Past records (pemerintah).
b.  Memelihara alat-alat komunikasi
c.  Mengunpulkan conto.
d.  Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan.
e.  Survey lapangan
  1. Layout pabrik.
g.  Check untuk load informasi
h.  Check hukum lokal.
  1. Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi.
  2. Peta-peta.
k.  Cost inquiries.
  1. Material.
m.  Membuat utility, avaliability, inquiries.

Sekian dulu postingan Perencanaan Tambang kali ini miners blogger 
Semoga bermanfaat buat kalian semua 
#salamtambang